Mba eka pulang


Dua hari ini, diriku tak hentinya menangis. Kau tahu mengapa? Seorang teman telah dipanggil tuhan. Eka namanya. Biasa ku panggil dengan sebutan mbak. 

Aku mengenalnya tiga tahun belakangan Ketika kami sama2 nyantri di rumah tahfiz. Ia seorang yang baik hati, tak sungkan membantu, walau pun tak jarang moody. Aku suka dengan mba eka. Karena itu aku nyaman sekali bersamanya. Jika ia tak ku dapati di rumah, Aku selalu mencarinya “mba eka mana?”. 

Aku selalu berbagi cerita dengannya, ia selalu mendengar. Layaknya seorang kakak, aku tak lepas dari wejangannya yang di kadang dibumbui dengan mimik marah jika ia sadar bahwa aku tlah membuat kesalahan. Dulu aku sangat dekat dengannya, apabaila hendak bermotoran, kami pasti selalu boncengan berdua. Tidur pun bersampingan. Mbak eka yang penakut, sering kali ku usili dengan cerita2 seram menjelang tidur. 

Hingga pada suatu hari, ego membuat jarak di antara kami berdua. Seantero penghuni rumah keheranan karena kami jarang terlihat lagi bersama. Aku menyendiri. Itu adalah masa2 terberatku, aku harus kehilangan banyak teman karena sibuk dengan pikiranku sendiri. 

Semenjak itu, aku mencoba memperbaiki hubungan dengannya. Tapi kau tahu? Kaca yang tlah retak bisa saja diperbaiki, tapi tak kan pernah fungsinya sempurna kembali. Mba eka berubah dan aku pun tak peduli. Sampai pada suatu waktu, di penghujung kepulangannya ketika aku hendak bertugas di gunung kidul, mba eka merengek “dil, besok aku balik lampung, kamu gk minta maaf ke aku po?”. Tak ingin berderai air mata, aku langsung menyalaminya dan memeluknya lalu aku pun pamit pergi. Tak lupa kuberikan ia sebuah buka sebagai kenangan. sungguh aku tak sanggup melihat ia pergi. 

Ia pun menikah dengan seorang lelaki yang juga ku kenal. Kami serumah amat bergembira. Sampai pada suatu hari, aku dapat kabar jika ia telah mengandung. Aku senang, amat senang, walaupun kabar ini tak kudapati langsung darinya. 

Suatu kali kami ngobrol di bbm. Ku tanyai perihal kondisi kandungannya. Ia bercerita tentang ia yang tak suka lagi berdandan dan lebih suka mencium bau sabun ekonomi. Aku ngakak. Ia masih seperti dulu, lucu. 

Dan dua hari yang lalu, ia mengabari kami bahwa bayinya telah lahir. Seorang putra. Ku lihat mirip pula dengan ia. Namum tak lama berselang, ada kabar mengejutkan lain yang datang. Ternyata mba eka tlah berpulang ke haribaan tuhan. Aku tak percaya, masih tak percaya. Tak lagi mampu ku tahan air mata. Tumpah. Aku menangis untuk kepergiannya dan penyesalan atas perlakuanku padanya. 

Ya tuhan…tolong sampaikan maafku pada mbak eka. Tolong katakan juga padanya bahwa aku selalu menyayanginya. 

Dear mba eka….

Mba…apa kabarmu di sana? Pasti kau sedang bercengkrama bersama penghuni surga lainnya ya? 

Mba…aku cuma ingin bilang, aku masih suka mewek jika ingat dirimu. Aku cengeng ya mba? Hehe

Mba…obrolan terakhir kita tebtang dirimu yang suka pake daster dan nyium aroma sabun ekonomi itu masih selalu ku kisahkan pada teman2 di rumah. Lucu. 

Mba…aku tak pernah menyangka jika kau pulang begitu cepat. Ada banyak hal yg belum kita obrolkan.

Mba…dari kepergiamu aku mengerti bahwa kehilangan amat berat rasanya. 

Mba…darimu aku belajar, bahwa sebesar apa pun badai menghadang, pertemanan harus selalu dijaga. 

Mba…terimaksh untuk segala timbunan kenangan yang kau buat. Kan ku kisahkan pada putramu bahwa kau sosok ibu yang tangguh, pengertian, nan baik hatinya. 

Mba…aku rindu padamu. Selamat jalan mba eka….

Iklan

Ngobrol nikah 


Pagi tadi aku menerima telpon dari kakak perempuanku yang kini menetap di kota palembang. Cukup kaget, karena biasanya kami berkomunikasi hanya sebatas chat. Sontak saja aku langsung mengira jika ada hal yang penting yang butuh disampaikan sampai2 ia menghubungiku sepagi ini. Benar ternyata, ia bertanya tentang legalisir ijazahnya. “got (ega-namaku), legalisir udh dikirim belum?”, -“sudah bro, dari senin kemarin”. Selepas menanyakan pertanyaan yang hasil jawabannya berupa iya atau tidak itu, kami mengobrol banyak. Obrolan seputar anak gadis 20an. Apa lagi kalau bukan tentang karir dan jodoh. 

Ia menggodaku dengan beberapa lelaki yang sempat singgah di hidupku. Penasaran dengan bagaimana hubunganku dengan mereka dan seorang yang baru2 ini pdkt padaku. “gimana kabar si M, si B, si A, oh ya yang pdkt itu si U?” -“si B kayaknya baik, si M sama si B kemarin ngajak balikan, si U? Ah paling cuma kebawa suasana”. Ntah sejak kapan kami mulai terbuka, mungkin karena sudah sama2 dewasa ya. Padahal tak jarang kami suka bertengkar. Tapi ya namanya sodara, keluaraga, satu2nya tempat pulang, mau seburuk apa pun keadaan. 

Kakakku bilang “jika sudah ada yang siap ngajak nikah, jangan ditolak.” Aku spontan menimpali “Dia nya siap, gua mah kagak.” maklum, aku masih menaruh hati pada seseorang yang lain. dalam pandanganku kini, menikah itu harus didasari karena cinta bukan sekedar suka apa lagi karena terbawa suasana. Kakakku bergumam “jangan gitu (jgn nolak), nanti kamu jadi gadis tua loh”. Jujur ya, hingga kini aku belum punya alasan yang tepat kenapa harus menikah?. Masalah umur? Aku sadar bila usiaku pada umumnya dapat dikategorikan bagian dari wanita yang sudah pantas membina rumah tangga. Tapi wait! Nikah bukan cuma perkara umur. Setiap individu punya konsen hidup masing2. Lah aku, lulus aja belum, kerja juga serabutan, yang pasti ilmu masih pas-pasan. “Kan nanti ada suami yang menafkahi?” Wah…wah… Maaf sodara, aku bukan wanita yang berkalang lelaki. Memang sejatinya menikah membuat urusan kedua manusia yang bercinta menjadi ringan. Lah tapi kalau pada kenyataannya malah nambah beban karena kesiapan lahir batin cuma sampai awang2 tersebab termakan hasutan orang. No..no.. 

Aku tak menyalahkan orang yang ingin menyegerakan menikah. Balik lagi ke pribadinya masing2. Harus sadar betul terhadap apa yang diperlu. Toh intinya hidup ini adalah medan juang. Jalan tempuhnya banyak, bisa lewat menikah atau pun tidak sama sekali.

Kakakku nyerah. Dia ngasih solusi taarufan. Aku cuma ketawa. Ntah kenapa nalarku belum sampai pada konsep begitu. Tukaran biodata, ketemu sekali dua kali, cocok jadi nggak cocok tinggali. Gitu banget yak, kayak ngelamar kerja. Tapi aku menghargai teman2 yang melalui proses itu. Balik lagi, nalarku belum sampai. Karena menurut sudut pandanganku, sebagaimana kau tahu jika nikah itu ibadah, selayaknya ibadah didasari cinta. Tapi ya mungkin saja teman2 yang baru kenal bisa langsungbjatuh cinta. 

Membicarakan sesuatu yang abstrak, selalu berujung pada pandangan subjektiv. Dari itu jangan menghakimi. Mari jalan masing2.

Dunia Anak


Sudah dua hari aku ditugaskan mendampingi anak-ank TPA, menggantikan ustazah yang kebetulan berhalangan hadir. Aku suka memperhatikan bagaimana anak-anak berinteraksi. Lucu sekali. Ada yang pemalu, lalu oleh temannya dibuat mati kutu karena dikerjai. Ada juga yang hobinya bercerita. Aku jadi kualahan meladeninya. Apalagi hal itu ia lakukan ketuka aku tengah sibuk menyimak bacaan temannya. Ada pula anak yang selalu bertanya. Apa saja ditanyakan. Mulai dari “mba, nulisnya boleh nggak kayak gini/mba, tinggal dimana?/mba, besok datang lagi kan?”.

 Kau tahu? Mereka senang sekali mencari perhatian guru. Apa lagi ketahuan pendatang baru. Aku senang jika mereka merasa nyaman dengan kehadiranku. Coba kau bayangkan, hal apa yang lebih membuatmu bahagia kecuali penerimaan. Adanya dirimu berarti bagi seseorang. 😄

Aku selalu menganggap anak-ank sebagai partner. Jadi selayaknya partner, kita setara. Karena dalam pandanganku, anak-anak itu pintar. Dia sadar betul apa yang dia mau. Karena itu aku amat menghargai apa yang ia utarakan atau pun kerjakan. Pikiran mereka bersih. Jika berteman, tak ada istilah udang dibalik batu. Berantem sekali, tak lama bermain kembali. Indah betul dunia kanak-kanak itu. Dengan memperhatikannya saja, aku sudah amat bergembira.

Tapi sayang, tak semua anak mampu mengekspresikan kebebasannya. Di ujung bumi sana, di kongo misalnya, anak-anak dijadikan pekerja tambang. Bekerja seharian dengan hanya memperoleh beberapa dolar. Negri yang miskin, memaksa mereka untuk turut andil mengatasi urusan perut. Atau coba kau lihat di negara sarat konflik. Seperti palestina dan israel. Setiap waktu sebuah senjata bisa saja menyasar diri mereka. Anak-anak di kedua tempat itu menjadi imbas dari napsu para orang dewasa yang menjarah tanah. Semoga derita yang mereka emban sejak kecil menjadikan diri meraka pribadi yang tangguh dan dewasa menyikapi hidup. 

Setiap anak punya masalahnya masing2. Namun orang tua harus yakin, jika meraka juga memilki sendiri penawarnya. Penawar itu haruslah dengan merelakan mereka tumbuh dengan sewajar-wajarnya. Tak dihimpit dengan segala bentuk ambisi orangtua. Bagaimana pun medan yang mereka alami, selama orangtua mampu meredam segala bentuk eksploitasi kepada anak, baik dalam rupa menanamkan ambisi-ambisinya atau pun dalam rupa kerja paksa, mereka akan menemukan penawarnya. 

Biarkan mereka tumbuh sesuai fitrah, semoga dengan begitu, mereka menjadi manusia yang tak merusak.

  • Rada ngaur

Ayah, maafkan aku


Sudah setahun berlalu. Skripsiku belum juga rampung. Sedih sih, terutama jika ayah mulai sibuk bertanya perkara kapan lulus. Aku jadi bertambah duka, apalagi aku tahu betul perasaan ayah. Tak tega untukku membayangkannya. Aku tahu beliau sangat berharap pada masa depanku. Bisa dibilang jika dulu aku adalah anak kebanggaannya. Selalu berprestasi, hingga berkali2 lulus tawaran untuk lanjut sekolah secara gratis. Puncak kecewa itu dimulai ketika aku batal berangkat ke negri seribu menara. Beasiswa yang sebelumnya kuperoleh, gagal untuk ditunaikan karena gejolak konflik di negri tersebut. Aku meradang, dua tahun menanti terasa amat sia-sia. Geram, tak mampu mengubah takdir di sana. Aku sadar jika ayah adalah orang yang paling merasa kecewa. Ibu pernah berujar jika Dengan bangga ayah bercerita kepada rekan sejawat tentang anaknya yang akan bersekolah di luar negri. Hancur sudah hati orangtua itu. Tapi Ia pun mengerti jika ia tak sanggup menuntut sesuatu dari takdir kejam tersebut, karena ia tahu anaknya sendiri tengah dirundung sedih sama seperti dirinya. 

Ayah adalah seorang dengan cita-cita yang besar. Ia ingin jika keempat anak perempuannya bersekolah hingga capaian tertinggi. Tak masalah di belahan bumi mana. Baginya, memiliki anak-anak yang pintar adalah sebuah kebanggaan. Ayah berharap, dari keempat anak perempuannya, keluarga keluarga kami yang lain baik dari sisi ayah maupun ibu dapat mencontoh apa yang telah ia lakukan. Bersekolah setinggi tingginya. Ayah juga bermimpi jika anak2nya telah sukses nanti, mereka turut andil dalam membantu keluarga yang masih sulit mencukupi hidup sendiri. 

Mimpi ayah terwujud pada si sulung yang telah selesai studi s2. Dan syukurlah ia tlah melakoni pekerjaan yang dengan gajinya ia tak perlu lagi merogoh kocek orangtua. Ayah sangat bangga. Tapi tidak seberapa dibanding mimpinya akan diriku. Ia berharap lebih. Dan aku mengecewakannya dengan tak kunjung merampungkan studi s1 dan menunda kuliah du tahun atas tragdei gagal berangkat ke luar negri itu.

Kadang aku menyesal. Tapi juga bergembira. Aku seolah menemukan apa yang aku butuhkan. Sedikit demi sedikit aku mengerti bagaimana dunia bekerja. Dan aku tak mampu untuk menjelaskan itu pada ayah. 

Kini ia tak lagi banyak berharap. Ia hanya ingin aku lulus dan kembali padanya. Aku rasa, aku dan dirinya amat saling merindu. Belasan tahun dirantau, aku diasuh oleh banyak orang. Ditempa dengan beragam pengalaman. Ayah tak pernah bertanya bagaimana aku tumbuh. Apakah aku bisa melewati masa remajaku dengan bahagia? Ayah tak pernah bertanya, dan aku sungkan untuk bercerita. 

Sekian dulu, nanti kulanjutkan lagi.

Aish, temanku


Sesore ini aku ditanya oleh seorang anak SMA, aish namanya. Nanti aku ceritakan apa saja yang ia tanya. Untuk sekarang akan aku gambarkan padamu bagaimana sosok teman baruku, si aish ini. 

Aish adalah Seorang santri yang dulunya lulus SMP dari sebuah pesantren mentereng di kota jogja dan setelah lulus ia sempat mengenyam bangku SMA selama satu tahun di kota yang sama. Aish tipikal gadis yang ekspresif. Ia mampu mengkisahkan apa yang ia rasakan secara detail, maksudku detai di sini ialah ia sanggup menjelaskan asbab nuzul kenapa ia merasa seperti itu. Mulai dari bete, bingung, kesal, dll. Awal perkenalan antara aku dan aish merupakan awal yang menurutku menyenangkan. Sejak ia baru menginjakkan kaki di tempat tinggalku ini, aku langsung mengajak dirinya untuk menemaniku berenang. Semenjak agenda renang itu lah aku dan aish berteman lumayan akrab. 

Asih dengan senang hati bercerita tentang dirinya yang dahulu di pondok adalah seorang santriwati yang suka melanggar (untuk tidak mengatakannya nakal). Pelanggarannya seperti ini; Ia pernah minggat ke mall bersama temannya. Sempat beberapa kali lolos, tapi kerap juga ketahuan. Ia pacaran dengan santri putra, ketemuan pas ada jadwal keluar. Ia juga membawa hp, tidak berbahasa arab inggris, dll. Dengan jujur aish berkisah perihal dirinya. Ku timpali dengan senyum bersahabat. 

Ia ingin berubah, begitu tekadnya. Ia tak ingin lagi bertingkah seperti itu. Ia berkata bahwa kenakalannya dipicu oleh paksaan ortunya, tapi ia sadar jika yang namanya nakal adalah tetap sebuah kesalahan. Hingga ia memasuki dunia putih abu2, ia sama sekali tak menemukan perubahan. Aish pun keluar, bertekad untuk menghapal, dan tibalah ia di tempat tinggalku ini, tempat yang ia harapkan dapat merubah hidupnya yang penuh dengan masa lalu yang suram. Tapi apa mau dikata, harapan aish tak sesuai ekspetasi. 

Ia gundah. Bingung tepatnya. Hari pertama tak ada kesibukan. Menurutku ia adalah tipikal anak yang musti ada aturan, walaupun di pondok sebelumnya ia sering melanggar. Pagi itu, ku ajak ia berjalan kaki keliling daerah sekitaran tempat tinggal kami. Ia masih bingung. Karena jujur, konsep tempat tinggalku tak jauh beda dengan konsep kost2an. Dirimu tanggung jawab dirimu, mau seperti apa kamu, itu urusanmu. “aku pengen balik ke sekolah lagi mba klo kayak gini, tapi masa aku musti ngerelain cita2ku sih mba”, asih galau, galau segalau galaunya. Ia ingin mengahapal, tapi ia juga ingin sekolah. Kusarankan untuk tetap lanjut sekolah sambil menghapal. Tapi aish tak yakin jika dirinya mampu fokus. Wal akhir…ia masih berlaku seperti itu. Menghapal sekedarnya, tidak seperti orang yang ingin mengejar target. 

Hingga tiba tadi sore, setelah kurang lebih dua minggu ia tinggal di tempat ini, ia disidang pengurus tersebab keluar tanpa ada izin dari pemegang otoritas. Aish murka, karena pengurus mengabari ibunya. Ibunya marah bercampur sedih karena menganggap anaknya telah melakukan hal yang membuat malu dirinya. 

Maghrib tadi, aish mengadu padaku. Nampak sekali jika ia sedang kesal. “kenapa ish?” aku mencoba memulai percakapan. oh ya aku belum memberitahumu ya bahwa aish tak jarang bertanya tentang perkara menyebalkan, bertanya tentang hukum, dan kau tahu, aku buta sekali tentang itu. ia pernah bertanya “mba, katanya musik itu haram, terus bikin hapalan hilang, iya po?”, biasanya ku jawab dengan geguyonan. “nggak apa2 ish hilang, nanti ya dihapal lagi, gitu kok repot”. Pernah juga ia bertanya “mba, minion itu zion po?”, coba kau bayangkan, minion yang imut itu disangkanya antek zionis. 

Dan sore tadi, aish bertanya sesuatu yang amat filosofis “mba,kenapa mba menghapal?” pertanyaan yang dulu pernah juga kutanyakan padanya. Kali ini aku diam, mencoba menjawab dengan jawaban sejujur2nya. “dulu waktu mba seumuran aish, mba bertekad banget pengen ngapal sama kayak aish. Kelihatannya keren banget gitu loh punya hapalan. Sekarang di umur mba ini, mba nggak butuh apa2 ish. Mba nggak nyari keuntungan dari hapalan ini. Mba ngapal aja, karena mba sadar klo mba ini orangnya nggak rajin2 amat masalah ibadah. Ya jadi itung2 sarana andalan lah buat pendekatan sama yang di atas.” gitu kira2 redaksinya. Aish menimpali “aku tuh kesal mba, aku udah mau berubah tapi malah kayak nggak dipercaya. tadI siang aku tuh cuma makan mie ayam” sambil guyon aku pun menjawab “ya kamu sih…di sini lagi ada hajatan malah main keluar”. Ia kembali bingung dengan masa depannya yang menurutnya tak ada harapan jika masih seperti ini saja. Ingin berubah tapi diragukan. 

Aku sadar bahwa pergaulan anak yang dipondokkan amat terbatas. Itu lah resiko jika pesantren memberi jarak dengan masyarakat setempat. Pengalaman para santri tentang ragam interaksi menjadi sangat minim. Pandangannya tentang masyarakat ideal adalah seperti apa yang selama ini ia alami di dalam pondok. Ketika santri bertemu dunia luar yang berbeda darinya, ia cenderung menyalahi karena takut akibat kurang mengerti. Apa lagi seperti di pondok aish, akses buku bacaan seperti buku2 fiksi pun dilarang. Sudah fisik diberi pagar, psikis pun tak jauh berbeda, tak punya nutrisi tambahan. Aish menganggap senakal nakal dirinya di pondok, masih nakal teman2nya di SMA. Dan ia tak mau seperti temannya. Ntahlah konsep nakal yang bagaimana yang ia munculkan dalam pengertiannya. Terlalu banyak ketakutan, aku khawatir masa mudanya tertekan. Minim pengalaman dan pengamalan.

Dan curhat-curhatan selepas maghrib tadi tak tahu kemana ujungnya. Aku yakin aish semakin bertambah kebingungannya. Tak apa, kadang wanita itu tak perlu solusi, hanya perlu kuping. Selamat bergundah gulana ish….